Khutbah Jum'at Mubarak - Ust.Shaifurrokhman Mahfudz, Lc., M.Sh., Ph.D.
Khutbah Jumat Revolusi Hati: Menjemput Ramadhan, Menghancurkan Ketimpangan Shaifurrokhman Mahfudz, Lc, M.Sh, Ph.D(Executive Members of the Australian National Imams Council)Khutbah PertamaSidang Jumat yang dirahmati Allah, Marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT, sebuah komitmen yang tidak hanya di lisan, tetapi mewujud dalam gerak nyata. Salah satunya dalam bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang masih meminjamkan detak jantung dan hembusan napas hingga hari ini untuk tetap menyebut nama-Nya, mengagungkan dan membesarkan kalimat-Nya atas nikmat dan anugerah yang terlimpah kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, teladan sejati dan abadi; sosok yang digelari Al-Amin (Yang Terpercaya) jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Kita berharap, keberadaan kita di Masjid Tazkia Islamic Center yang mulia ini dapat memperkuat keimanan dan memberikan ketenangan hati yan memancarkan kedamaian dan energi positif kepada sesamanya. Karena itu, tema Revolusi Hati menjadi penting, khususnya pada saat ini ketika kita akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan. Jika mengikuti falsafah Abu Bakar al-Balkhi yang menganalogikan Rajab; Bulan Menanam, Sya'ban; Bulan Menyiram, dan Ramadhan: Bulan menuai, maka artinya di bulan ini adalah waktu menyiram dengan membersihkan hati dari "rumput liar" kemaksiatan. Kita ingin, puasa Ramadhan tahun ini memliki kualitas yang jauh lebih baik. Puasa yang bukan sekadar menahan lapar, tapi ada proses transformasi jiwa yang menghantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan akhlak yang lebih mulia. Pesan Nabi SAW:"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari) Untuk mendeteksi kesehatan hati, ada sebuah nasehat berharga yang disampaikan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Al-Fawa'id. Beliau mengutip perkataan masyhur Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu;“Carilah hatimu di tiga tempat: (1) Saat mendengarkan Al-Qur'an, (2) Di majelis-majelis zikir (ilmu), dan (3) di waktu-waktu saat engkau sendirian (berkhalwat dengan Allah). Jika engkau tidak menemukannya di tempat-tempat tersebut, maka memohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati untukmu; karena sesungguhnya engkau (saat itu) tidak memiliki hati." Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Semerbak wangi Ramadhan sudah mulai terasa. Namun, sebuah pertanyaan besar menggelitik kita; Apakah Ramadhan yang agung ini benar-benar kita rindukan dan harapkan? Mengapa Ramadhan yang datang setiap tahun, dengan segala kemuliaannya, tidak merubah keadaan kita dan ummat ini. Rasanya, Ramadhan tidak lebih dari rutinitas tahunan yang datang dan berlalu begitu saja. Seringkali ummat ini gagal melahirkan transformasi ketakwaan yang nyata, karena setelah sebulan penuh "berpuasa", kita tetap kembali menjadi pribadi yang keras hati, yang masih menyimpan kebencian, yang masih mudah mengkhianati amanah, yang tetap rakus terhadap dunia dan mudah terjerumus dalam kesalahan dan dosa? Jika kita tatap realitas umat hari ini dengan mata batin yang jernih, maka kita segera sadar bahwa kita sedang berada dalam cengkeraman Krisis Akhlak yang sangat akut. Hati nurani umat seolah sedang mengalami "mati suri" akibat hantaman godaan duniawi yang membabi buta. Kita menyaksikan betapa mahalnya harga sebuah kejujuran hari ini. Nilai-nilai integritas hancur berkeping-keping di bawah kaki Pragmatisme Politik. Betapa susahnya menemukan kemurnian niat dan ketulusan hati dalam dinamika politik negeri ini. Demi kursi kekuasaan dan pengaruh, fitnah disebar, janji dikhianati, dan persaudaraan sesama Muslim diputus. Tidak hanya di panggung politik, di meja-meja kerja pun kejujuran kalah oleh tuntutan ekonomi dan life style yang semakin materalistis. Banyak dari kita yang terpaksa—atau memaksakan diri—menghalalkan segala cara demi menutupi gaya hidup, meski harus mengubur hati nurani dalam-dalam. Kondisi ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Kita melihat gap ekonomi yang semakin lebar dan tajam; di satu sisi ada segelintir orang yang berpesta di atas kemewahan, sementara di sisi lain, jutaan saudara kita kesulitan mencari peluang kerja yang layak. Oxfam bekerjasama dengan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) telah merilis sebuah laporan bertajuk Towards a More Equal Indonesia yang menyoroti bahwa kekayaan gabungan dari empat miliarder terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin. Dalam dua dekade terakhir, kesenjangan antara orang terkaya dan penduduk lainnya di Indonesia memang tumbuh lebih cepat dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Saat ini, Indonesia menempati urutan ke-6 dalam daftar negara dengan tingkat ketimpangan kekayaan paling buruk di dunia (setelah Rusia, India, Thailand, Afrika Selatan, dan Brasil). Di tengah kesulitan ini, harapan bangkitnya kekuatan ekonomi umat seringkali berujung kecewa. Kita melihat dugaan kuat adanya fraud dan skema ponzi yang dilakukan Dana Syariah Indonesia (DS) sehingga mengalami gagal bayar kepada lender (nasabah) mencapai 2,4 triliun rupiah. Sebelumnya, juga terjadi pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera (Unit Syariah) yang berdampak pada ribuan pemegang polis dengan total kewajiban mencapai triliunan rupiah. Lembaga-lembaga tersebut seharusnya menjadi benchmark bagi sistem keuangan alternatif yang lebih prudent dan memiliki daya reseliensi yang tinggi dibandingkan sistem keuangan ribawi. Begitupun dengan kasus korupsi Kuota Haji yang menyesakkan nurani karena dilakukan institusi keagamaan yang seharusnya menjadi rujukan moral tertinggi negeri ini. Kita juga mendengar lembaga-lembaga filantropi seperti zakat, infak, sedekaf, dan wakaf telah disalahgunakan oleh oknum pengelola untuk fasilitas mewah dan gaya hidup yang jauh dari spirit zuhud.Mengapa ini semua bisa terjadi dan justru dilakukan oleh oaring-orang terhomat yang berpendidikan tinggi? Inilah yang disebut dengan Paradoks Integritas. Dunia pendidikan kita sedang mengalami disorientasi. Pendidikan tinggi kita sering kali hanya mengisi aspek intelektual, namun gagal me membentuk karakter. Lembaga pendidikan kita saat ini lebih mirip industri yang sekadar mencetak "tenaga kerja siap pakai" untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kita mencetak sarjana yang cerdas secara kognitif, mahir dalam administrasi, namun kering secara empati dan rapuh secara mental. Kita gagal menginstal "Software Akhlak" ke dalam jiwa mereka, sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat, mereka hanya menjadi pemain baru dalam sistem yang koruptif, bukan menjadi agen perubahan yang solutif. Akhlaqul karimah, perilaku mulia atau etika luhur, hari ini menjadi sesuatu yang langka. Jamaah yang dimuliakan Allah, Apa makna akhlak yang sebenarnya? Bapak Etika Islam, Ibnu Miskawaih, filsuf terkemuka (wafat 1030 M), dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlaq, menyatakan; "Suatu keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa perlu melalui pemikiran dan pertimbangan (yang lama)." Ibnu Miskawaih mengajarkan kepada kita bahwa manusia bukanlah sekadar tubuh yang berjalan, melainkan Jiwa yang Memimpin. Beliau mengibaratkan jiwa kita seperti sebuah kota yang diperebutkan oleh tiga kekuatan besar: An-Nafsu al-Bahimiyyah (Nafsu Binatang): Yang hanya tahu cara memuaskan perut dan syahwat. Jika ini yang memimpin, manusia akan menjadi budak pragmatisme dan rakus terhadap harta umat. An-Nafsu as-Sabu’iyyah (Nafsu Buas/Amarah): Yang haus akan kekuasaan, amarah, dan dominasi politik yang menghancurkan persaudaraan. An-Nafsu an-Nathiqah (Jiwa Berpikir/Malaikat): Inilah anugerah Allah yang seharusnya menjadi raja, yang menuntun kita pada hikmah dan kejujuran. Jika ketiga kekuatan jiwa (Nafsu, Amarah, dan Akal) sudah selaras, maka akan tercapai keseimbangan (al-I’tidal). Akal akan menjadi pemimpin, amarah menjadi pelindung harga diri, dan nafsu menjadi mesin keberlangsungan hidup yang terkendali. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara mencapai keseimbagan (al-i’tidal) agar kita bisa mengubah kebaikan yang selama ini terasa berat menjadi sebuah aktifitas yang mudah dan refleks? Ibnu Miskawaih menawarkan jalan untuk mencapai keseimbangan tiga mesin penggerak jiwa yang harus kita latih secara bersamaan: Pertama, Menjinakkan Nafsu (‘iffah). Jangan biarkan diri kita didikte oleh materi. Jadikan puasa sebagai laboratorium untuk melatih "daya tolak" jiwa terhadap keinginan yang berlebihan. Mulailah dari hal kecil: Berhentilah makan sebelum kenyang, dan belilah barang karena fungsi, bukan demi gengsi. Ingatlah, saat kita mampu berkata "tidak" pada keinginan perut, saat itulah kita mulai merdeka dari perbudakan dunia. Kedua, Mengarahkan Amarah (syaja’ah). Agama tidak menyuruh kita mematikan amarah, tapi mengarahkannya menjadi keberanian membela keadilan. Di tengah badai pragmatisme hari ini, gunakanlah "jeda tiga detik". Saat ego kita tersinggung atau emosi memuncak, berhentilah sejenak agar kendali jiwa berpindah dari luapan amarah menuju akal sehat yang jernih. Itulah keberanian yang sesungguhnya. Ketiga, Mempertajam Akal (Hikmah). Jadikan akal sebagai panglima bagi setiap tindakan. Biasakanlah melakukan tafakkur atau audit niat sebelum memejamkan mata di malam hari. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah keputusan saya hari ini dipandu oleh prinsip moral Allah, atau sekadar mencari celah hukum dan keuntungan sesaat?" Sidang Jumat yang dirahmati Allah, Inilah esensi Riyadhah atau latihan konsisten yang bisa kita lakukan selama tiga puluh hari Ramadhan. Jika keseimbangan ini kita jaga, maka akan lahir kejernihan hati yang disebut ash-Shafa’. Hati Anda akan menjadi seperti cermin yang bening—ia akan secara otomatis memantulkan cahaya kebenaran dan menolak debu keburukan. Pada titik itu, kejujuran tidak lagi butuh pengawasan manusia, karena ia telah menyatu menjadi identitas dalam diri kita. Maka, “akhlak bukan sekadar perbuatan, tapi kondisi jiwa yang menetap." Perilakupositif yang muncul adalah murni lahir dari hati yang tulus, genuine, pure, natural dan bukan sebuah "akting" sosial, pencitraan, flexing yang berharap validasi manusia. Kejujuran yang ditunjukkan bukan karena takut hukum, kedermawanan yang tidak berharap pujian, dan sikap amanah bukan karena merasa diawasi manusia. Kita ingin sampai pada tahap di mana; Menolak suap adalah refleks. Mengelola dana umat dengan transparan adalah refleks. Membantu yang lemah adalah refleks. Melakukan kebaikan, amal soleh dan integritas diri adalah refleks. Tanpa perlu berpikir lama, tanpa perlu pertimbangan untung-rugi duniawi, karena jiwa kita telah "terukir" dengan tinta ketakwaan yang permanen. Inilah sejatinya Output Based para Shaimin: Manusia yang jiwanya telah merdeka dari penjajahan nafsu, sehingga setiap geraknya adalah maslahat bagi ummat dan bangsa."Akhlak bukanlah jubah yang kita pakai hanya saat di depan manusia, melainkan ukiran di dalam jiwa yang nampak nyata saat kita sendirian menggenggam amanah." Khutbah KeduaSidang Jumat yang dirahmati Allah, Hari ini kita menyaksikan sebuah ironi besar. Umat Islam seakan tidak berdaya merespons skema-skema global seperti 'Board of Peace' yang digagas Donald Trump sebuah tawaran kedamaian semu yang mencoba menukar kedaulatan Gaza dan martabat kemanusiaan dengan iming-iming investasi ekonomi. Mengapa kita begitu lemah? Karena seringkali, cara pandang kita terhadap kesejahteraan telah terdistorsi. Rencana Trump yang disebutnya sebagai Deal of the Century adalah bentuk "transaksionalisme" yang hanya bisa dilawan jika umat Islam memiliki kemandirian ekonomi yang berbasis keadilan, bukan sekadar mengejar investasi elit. Ketika proyek-proyek pembangunan ekonomi kita hanya berpihak pada segelintir pengusaha besar, ketika kita terlalu sibuk memuja angka pertumbuhan dan profit sembari berharap pada keajaiban trickle-down effect yang tak kunjung menetes ke masyarakat bawah kita, kekhawatiran Nabi SAW terasa begitu relevan; “wa lakinni akhsya ‘alaikum an tubsatha ‘alaikumud dunya kama busithat ‘ala man qablakum…; itulah saat dunia sedang dibentangkan di hadapan kita'. Saat itulah kemegahan materialisme perlahan-lahan mulai membinasakan nurani kita, sebagaimana ia telah membinasakan umat-umat sebelum kita. Betapa pedih sebuah kenyataan ketika tumpukan harta justru membangun tembok tinggi yang memisahkan kita dari penderitaan sesama. Sangatlah menyedihkan saat segelintir Muslim yang berlimpah rezeki kehilangan kompas empatinya; alih-alih mengangkat derajat saudaranya yang terhimpit kemiskinan, mereka justru tega menjadikan keringat kaum lemah sebagai anak tangga demi melanggengkan kekuasaan dan keserakahan. Mari kita uji nurani kita sejenak sebelum bulan suci itu tiba: Jika deretan ayat Allah tentang keadilan sosial tak lagi mampu menggetarkan sanubari kita; Jika pemandangan ketimpangan ekonomi umat di depan mata hanya kita lewati dengan hati yang dingin; Jika rasa takut kepada Allah tak lagi hadir saat kita sendirian mengelola amanah harta; Maka waspadalah. Sebab, jika keadilan telah tumbang oleh nafsu menimbun dunia, maka gema takbir Ramadhan yang sebentar lagi membahana hanya akan menjadi riuh suara tanpa makna. Sebelum itu terjadi, segeralah bersimpuh dan tersungkur di hadapan-Nya. Mari kita bawa pulang nasihat tajam dari Abdullah bin Mas’ud ke dalam batin kita: 'Tanyakanlah pada dirimu, sudahkah engkau memiliki hati?' Jangan biarkan Ramadhan tahun ini berlalu sekadar sebagai rutinitas lapar yang hambar. Esensi puasa bukanlah tentang memindahkan jam makan, melainkan tentang meruntuhkan tembok keserakahan yang membatu di dalam dada. Kita butuh sebuah revolusi! Revolusi yang dimulai dari hati—hati yang dipaksa merasakan lapar agar tangan kita menjadi ringan untuk berbagi. Jadikanlah setiap butir kurma dan makanan yang kita santap saat berbuka sebagai saksi pengingat: bahwa dalam setiap tetes rezeki yang kita nikmati, ada hak bagi mereka yang tertindas yang wajib kita tunaikan. Mari kita hancurkan sekat-sekat ketimpangan ini dengan sebuah ledakan kepedulian yang nyata. Sebagai penutup, marilah kita camkan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari kenyamanan yang instan, melainkan dari perjuangan yang dijemput dengan keikhlasan. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita kekuatan untuk menjalani riyadhah spiritual ini. Kita berharap, pasca-Ramadhan nanti, kita lahir kembali menjadi pribadi yang baru: pribadi yang secara otomatis bergerak dalam kebaikan, otomatis produktif dalam karya, dan otomatis memberikan dampak nyata bagi terwujudnya Indonesia yang lebih adil, mulia, dan bermartabat."Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Di penghujung hari Jumat yang mulia ini, kami bersimpuh memohon ampunan-Mu. Kami mengaku bahwa hati nurani kami seringkali tertutup oleh debu pragmatisme dan ketamakan. Kami sering mengkhianati amanah hanya demi sesuap nasi dan kedudukan yang fana.Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah pragmatisme politik yang memecah belah persaudaraan kami. Lindungilah para pengelola harta umat di negeri ini dari godaan syaitan untuk menyelewengkan dana umat. Jadikanlah mereka orang-orang yang jujur, yang takut akan pengadilan-Mu di akhirat kelak. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pemimpin-pemimpin yang amanah, yang lebih mencintai rakyatnya daripada diri dan kelompoknya, yang berjuang menghapus jurang ekonomi yang tajam, dan yang berusaha menyediakan lapangan kerja serta keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.Ya Allah, sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan. Jadikanlah puasa kami tahun ini sebagai revolusi akhlak bagi kami. Ubahlah kejujuran dan sifat amanah menjadi watak otomatis dalam jiwa kami, agar kami keluar dari bulan suci nanti sebagai hamba yang produktif, progresif, dan berdampak nyata bagi kejayaan umat dan bangsa.